Belajar “Determinasi” dari Adik Sendiri

Determinasi adalah salah satu kata serapan dalam bahasa Indonesia. Kata asalnya dari bahasa inggris, yaitu sebuah kata sifat determined, atau lebih tepatnya being determined. Arti kata ini baik dalam kamus Inggris maupun kamus Indonesia mirip saja, yaitu ketetapan hati dalam setiap keputusan. Lebih jauh lagi, hari ini saya belajar arti “determinasi”, bukan hanya dalah sebuah translasi, tetapi dalam sebuah tindakan hidup dari adik sendiri.

Saya dan adik memiliki perbedaan umur yang tidak jauh, hanya 3 tahun saja. Di satu sisi, hal ini bernilai positif terutama di masa pendidikan dasar, dimana semua buku pelajaran dengan sangat tepat bisa diwariskan kepadanya, penghematan. Disisi lain, hal tersebut juga bernilai negatif karena artinya orang tua kami selalu memiliki beban tinggi ketika peralihan jenjang pendidikan. Saya SMA, adik SMP. Saya kuliah, adik SMA. Saya masih kuliah, adik juga masuk kuliah, It was hard for them back then. 

Kembali ke pokok tulisan, “determinasi” adik mulai terlihat di masa peralihan antara SMA dan kuliah. Anak ini memang sangat berkeinginan untuk menjadi seorang pilot, entah darimana datangnya. Selepas SMA, dengan sangat yakin mendaftar di Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia (STPI). Namun, karena jurusan pilot di kala itu memerlukan biaya yang tinggi, ditambah beberapa alasan pribadinya, dia mengalihkan pilihannya menjadi jurusan Teknik Penerbangan saja. Lagipula, program tersebut menawarkan beasiswa dan ikatan kerja dari Garuda Maintenance Facility (GMF). Sebuah paket yang menarik.

Disaat yang sama, anak ini mendapat beasiswa penuh dan sudah memulai pendidikannya di ITS, di jurusan Teknik Material dan Metalurgi. Inipun tidak kalah menarik. Bagaimana tidak, ITS adalah salah satu institusi teknik terbaik di Indonesia. Ditambah lagi jurusan yang dipilih adalah salah satu jurusan langka, dengan prospek luar biasa. jadi, Dua pilihan tersebut boleh dibilang seimbang.  Disinilah poin determinasi pertama diuji. Dengan mantap anak ini memilih Teknik Penerbangan STPI. Meskipun bukan pilot, yang penting masih di dunia penerbangan. Ia pun mantap meninggalkan perkuliahan yang sudah dimulai beberapa bulan di ITS dan program beasiswa penuh yang menjadi haknya. Memang, sedikit gila.

Selesai masa pendidikannya, anak ini pun mulai berkarir di GMF, memulai usahanya untuk mandiri, berdiri diatas kaki sendiri. Dia sudah mulai memenuhi kebutuhan pribadinya, bahkan bisa menyisihkan sebagian rejekinya untuk orang tua. Dengan kualifikasi yang dimilikinya, bersinar di anak perusahaan pelat merah ini sepertinya bukan halangan.

Lalu dimana “determinasi” berikutnya? Ada. Anak ini sepertinya memang sangat ingin menjadi pilot. Determinasi menjadi Pilot! Ditengah pekerjaannya, dia mendaftar kembali ke STPI, kali ini ke jurusan Pilot, dengan biaya sendiri. Bagi saya, pikiran ini penuh dengan risiko. Bagaimana tidak, baru saja bisa menghasilkan sesuatu, malah beralih menghabiskan sesuatu. Ditambah lagi kondisi ekonomi keluarga kami yang masih belum stabil. Tetapi, dengan gigih dia meyakinkan semuanya bahwa ini yang dia inginkan. Baiklah, lebih baik melakukan sesuatu, memaksimalkan potensi diri, daripada menyesalkan sesuatu dimasa yang akan datang. Akhirnya, semua proses pendaftaran dilaluinya. Proses seleksi program penerbang ini tidaklah mudah. Banyak rangkaian tes yang dilewati, dan tentunya memakan biaya. Tetapi sekali lagi, determinasi mengalahkan semuanya.

Ketika lolospun, dia masih dihadapkan dengan ujian determinasi. Hal ini karena sebenarnya ada kontrak dinas yang harus dipenuhinya di GMF sebagai kompensasi beasiswa yang telah diterima. Pilihannya adalah membayar denda atau merelakan ijasahnya tertahan sampai denda tersebut terlunasi. Bisa ditebak, dengan mantap dia merelakan ijasahnya ditahan! Kali ini kelewat gila. Determinasinya menjadi pilot mengalahkan semua halangan yang ada.

Determinasi itu pun berbuah, setelah hampir dua tahun menjalani masa pendidikannya, yang tentunya juga berisi ujian – ujian determinasi lainnya. Beberapa hari yang lalu, anak ini berhasil menerbangkan pesawat sendiri, berhasil menjadi pilot. Selamat! Semoga sukses dan selalu menginspirasi! Terimakasih atas ilmu “determinasi”-nya, Dek!

Benar saja, determinasi bukan hanya sebuah translasi, tetapi sebuah tindakan hidup, sebuah ketetapan hati dalam sebuah keputusan.

Melbourne – awal musim dingin 2017

apwicaksana

PS: Periode ini tepat satu tahun saya di Melbourne, sebuah kota yang cantik, tempat belajar dan mulai membangun keluarga bersama Isna 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: