Reksadana Indeks: Miracle on Defensive Investing

Ben Graham, pionir value investing, menekankan perbedaan antara investor dan spekulator dalam bukunya The Intelligent Investor yang terbit tahun 1949. Pada dasarnya, ia menyatakan bahwa model operasi dari seorang investor adalah dengan melakukan penelitian mendalam (research) terhadap instrumen investasi, kemudian memilih instrumen terbaik yang mampu melindungi nilai modal dasar investasi (principal) dan memberikan imbal hasil yang memadai (return). Tiga komponen tersebut harus terpenuhi 100%, kurang 0.01% saja, dari 1 kriteria saja, operasi tersebut disebut spekulasi, pelakunya bukan lagi investor melainkan spekulator.

Salah satu investor yang konsisten menerapkan model operasi tersebut adalah Lo Kheng Hong, atau dikenal dengan Warren Buffet-nya Indonesia di kalangan penggiat pasar modal. Pria ini berprofesi sebagai investor penuh sejak 26 tahun silam, dengan 85% kekayaannya ada di pasar modal berjumlah sekitar 2.5 trilliun, tersebar di berbagai saham. Dalam sebuah wawancara, dia menyampaikan kebiasaanya setiap hari sebagai RTI, yaitu reading, thinking, investing! Tiga kebiasaan tersebut konsisten dengan tiga kriteria investor, yaitu melakukan riset mendalam (reading & thinking), kemudian memilih instrumen dengan perlindungan modal dasar dan imbal hasil terbaik (investing). Dengan demikian, wajar apabila Lo Kheng Hong mampu meraup kesuksesan finansial. Pertanyaannya, bagaimana dengan para calon investor yang tidak mempunyai waktu atau mempunyai waktu terbatas untuk melakukan model operasi investasi dengan baik? Model investor ini sebenarnya sama seperti saya, para investor paruh waktu yang harus membagi fokus dengan hal lain tetapi tetap menginginkan imbal hasil memadai. Investor kemaruk? Mungkin.

Ini juga dijawab oleh Ben Graham dengan membedakan antara investor aktif (enterprising investor) dan investor pasif (defensive investor). Investor aktif adalah mereka yang mempunyai waktu dan tenaga untuk mencurahkan segala kemampuannya dalam melakukan analisa pribadi dan pengambilan keputusan sendiri. Sementara investor pasif adalah mereka yang menghindari kerumitan analisa dan pengambilan keputusan, bukan karena tidak mau, tetapi karena keterbatasan waktu dan tenaga. Jadi, bisa ditebak Lo Kheng Hong masuk kemana, dan saya masuk yang mana. Hal yang harus selalu diingat, investor aktif akan berpotensi menghasilkan imbal hasil yang lebih besar daripada investor pasif. Namun hal yang pasti dari dua tipe ini adalah, sebagai investor,  bukan spekulator, mereka akan terlindungi dari risiko penurunan nilai finansial dan mendapat imbal hasil memadai. Perbedaannya hanya di makna “memadai”.

Pertanyaan selanjutnya, apa instrumen investasi yang memenuhi kriteria investor pasif? Bagi saya, pertanyaan ini dijawab dengan reksadana indeks atau index fund (bagi yang kurang paham reksadana, penjelasannya akan saya sampaikan terpisah. Untuk saat ini,  anggap saja reksadana sebagai instrumen investasi). Pada umumnya, para investor aktif pasar modal melakukan investasi pada beberapa saham yang menurut analisa mereka merupakan pilihan investasi yang baik. Para investor ini akan mendapatkan imbal hasil berlipat dari kenaikan harga saham dan keuntungan perusahaan (dividen) yang dibagikan kepada para pemegang saham di akhir tahun nanti. Selanjutnya, investor aktif ini secara rutin melakukan analisa kinerja investasi mereka dan melakukan penyesuaian komposisi sahamnya atau dikenal dengan rebalancing (menjual saham kinerja buruk, membeli saham kinerja baik), untuk meningkatkan kinerja portofolio secara keseluruhan. Permasalahannya, proses pemilihan dan rebalancing ini perlu waktu dan tenaga, yang seperti tadi disampaikan tidak dimiliki oleh investor pasif.  Proses inilah yang dilakukan oleh reksadana indeks. Instrumen ini menggunakan indeks  (daftar saham) sebagai acuan rekomposisinya. Misalnya, indeks LQ 45 adalah daftar 45 perusahaan dengan nilai pasar terbesar dan volume transaksi terbesar di pasar modal Indonesia. Maka, reksadana indeks yang menggunakan LQ 45 sebagai acuan akan otomatis menyesuaikan perubahan komposisi saham yang dimilikinya agar sesuai dengan LQ 45 setiap ada perubahan dari list saham. Biasanya list ini akan diubah oleh bursa efek Indonesia setelah dilakukan evaluasi dalam periode tertentu, bisa 3 bulan, 6 bulan, atau setahun. Beberapa perusahaan yang masuk list ini adalah Unilever, Telkom, Indofood, dan perusahaan besar lainnya. Dengan demikian, para investor pasif tidak perlu pusing – pusing, secara otomatis mereka telah berinvestasi di saham kelas atas (blue chip), beradaptasi secara otomatis apabila ada perubahan. Asyik kan?

Permasalahannya, untuk melakukan investasi di reksadana, diperlukan biaya tertentu selain modal dasar investasinya. Biaya – biaya ini seperti biaya manajer investasi, bank kustodian, dan yang lainnya. Analoginya kita punya kos-kosan, dapat hasil dari pembayaran uang kos, tetapi juga harus mengeluarkan biaya untuk air, listrik, atau membayar satpam kos-kosan kalau ada. Hal yang menarik adalah biaya – biaya reksadana tadi akan berbeda – beda untuk setiap reksadana, dan pada akhirnya mempengaruhi imbal hasil investasinya. Secara intuitif, kita harus meminimalkan biaya-biaya tersebut untuk memaksilkan keuntungan investasi. Pastikan bahwa reksadana indeks yang kita pilih adalah reksadana indeks dengan biaya manajemen terendah. Hingga saat ini, ada delapan reksadana indeks di Indonesia yang ditawarkan oleh beberapa perusahaan sekuritas. Tiga diantaranya adalah Danareksa Investment Management (BUMN) dengan Reksadana Danareksa Indeks Syariah, Kresna Assest Management maju dengan Kresna Indeks 45, dan CIMB Principal Asset Management menawarkan CIMB Principal IDX 30. Perhatikan bahwa masing – masing reksadana mencantumkan indeks acuan yang berbeda-beda. Ini mencerminkan daftar saham yang mereka gunakan sebagai instrumen investasinya. Indeks syariah berisikan saham – saham yang beroperasi sesuai konsep syariah. Indeks 45 adalah saham – saham dengan nilai kapital terbesar dan volume tertinggi, sementara IDX 30 adalah 30 saham terbaik dari indeks 45. Saya tidak akan menjelaskan reksadana indeks mana yang memiliki biaya terendah. Yang saya sampaikan adalah satu dari tiga reksadana indeks tersebut telah menjadi kendaraan investasi saya hingga saat ini. So far, memang hasilnya “memadai”. Sebagai gambaran, imbal hasil tahun lalu telah saya investasikan kembali kepada pendamping hidup saya, mencukupkan biaya pernikahan kami 🙂

Lo Kheng Hong pernah berucap bahwa cara kerjanya menjadikan ia “kaya sambil tidur“. Berkaca pada ulasan diatas, sebenarnya siapa yang “kaya sambil tidur“? Lo Kheng Hong, atau investor pasif? Entahlah, lagipula kaya itu relatip! Tip! Tip! Yang pasti, sejauh ini reksadana indeks telah membantu investor pasif seperti saya. Yep, Reksadana Indeks is a miracle on defensive investing

Sebagai penutup, saya cantumkan video interview John Bogle, pionir reksadana indeks dan pendiri Vanguard Investment Management sebagai low cost index fund pertama di negeri Paman Sam! Enjoy!

PS: Cita – cita saya nan mulia adalah beralih dari investor pasif (defensive) menjadi investor aktif (enterprising). Semoga lancar, was wes wuzzz!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: