Sekolah modal serakah

Beberapa minggu yang lalu saya dikontak oleh teman satu angkatan semasa kuliah S1 di Teknik Perkapalan ITS. Intinya saya diminta hadir sebagai narasumber talkshow memperingati Lustrum ke XII jurusan, berbicara tentang pengalaman selama di kampus dan di dunia kerja. Acaranya tidak main-main, talkshow marathon dari angkatan pertama (P-1) hingga angkatan terakhir (P-59), dari Oktober hingga November 2020. Saya sendiri bersama dua orang lainnya akan mewakili angkatan 2007 (P-47). Pertanyaannya, saya mau bicara apa? Masih remah-remah rengginang!

Setelah berpikir beberapa malam dan diskusi dengan istri, saya putuskan untuk berbicara tentang bagaimana si anak guru sekolah dasar dan supir ambulans ini meneruskan kuliah. Topik ini muncul setelah melihat curriculum vitae yang mencantumkan 8 beasiswa yang pernah saya raih. Kalau dipikir kembali, saya juga bingung kenapa bisa dapat banyak beasiswa. Mungkin kah karena serakah? Semua peluang yang ada langsung disikat. Entahlah, kalaupun memang iya, berarti sekolah saya modal serakah. Sungguh perilaku yang buruk!

Tapi tunggu dulu, sepertinya banyak hal baik tersembunyi dari 8 beasiswa ini. Cerita bagaimana saya harus berlari di halte Pasar Turi mengejar kereta ke Jakarta untuk interview beasiswa, cerita bagaimana saya harus berargumen dengan biro kemahasiswaan ITS untuk mengijinkan saya mendapat dua beasiswa sekaligus, atau cerita bagaimana saya harus belajar Bahasa inggris setiap subuh sebelum berangkat kerja demi memenuhi syarat IELTS beasiswa. Mungkin, kalau dilihat dari sisi ini sepertinya keserakahan itu tidak buruk lagi. Semoga saja.

Nah daripada ceritanya hanya saya sampaikan nanti di talkshow, lebih baik saya simpan disini juga. Nanti saya akan buat post-series #sekolahmodalserakah yang bercerita tentang masing-masing beasiswa dan proses yang dilalui didalamnya. Harapannya adalah meluruskan citra buruk sebagai orang yang serakah beasiswa. Kalaupun sisi baiknya bisa jadi penyemangat adik-adik yang ingin sekolah, ya itu bonus saja.

PS: Tapi, sebagai mantan karyawan, saya sangat paham bagaimana bonus lebih diminati daripada gaji bulanan.  Jadi, semoga bonus dari post-series ini yang lebih tinggi!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Powered by WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: