Pribadi Entrepreneur

Entrepreneur adalah sebuah kata serapan yang mulai populer di medio 2008, atau mungkin sebenarnya sudah populer sejak lama. Tapi bagi saya, 2008 adalah tahun perkenalan pertama dengannya. Istilah ini dibawa dalam matakuliah Technopreneurship, salah satu matakuliah wajib di ITS. Anggapan umumnya, entrepreneur selalu berhubungan dengan pebisnis, pengusaha, mandiri, intinya menanamkan bahwa semua orang harus punya usaha sendiri. Tapi, benarkah demikian? Saya memang kurang paham, tapi pemikiran kecil saya tidak 100% setuju bahwa seorang entrepreneur itu harus menjadi pengusaha, mendirikan sebuah usaha.

Bagi saya, entrepreneur adalah sebuah kata sifat, bukan kata benda. Maka ,saya kurang setuju apabila ada yang mengatakan “ingin menjadi entrepreneur”, mengotak-ngotakan antara dirinya sebagai entrepreneur dengan orang lain yang bukan entrepreneur. Mengapa ia menjadi kata sifat? Karena hal yang sama dari setiap orang yang mengaku sebagai entrepreneur terletak pada sifatnya, bukan pada bentuknya. Seorang entreprenuer, menurut pemikiran saya, memiliki tiga sifat utama yaitu pembelajar, cermat, dan pekerja keras.

Pembelajar sendiri dimaknai sebagai rasa ingin tahu yang besar, dan keberanian untuk mencari tahu. Seseorang dengan sifat entrepreneur akan dengan sangat mudah tertarik dengan berbagai hal baru, bahkan dengan sangat mudahnya jatuh hati, dan belajar serius mengenai hal tersebut. Sifat pembelajar inilah yang melahirkan inovasi – inovasi dari seseorang dengan karakter entrepreneur. Poin kedua, cermat didefinisikan sebagai sifat kehati-hatian dalam setiap hal. Seseorang dengan karakter entreprenuer akan menyerap informasi sebanyak mungkin sebagai panduan dan bahan pertimbangan dalam setiap aktifitasnya. Hal inilah yang mendasari manajemen risiko dalam karakter entreprenuer. Saya kurang setuju apabila entrepreneur diidentikan dengan keberanian mengambil risiko. Bagi saya, justru karakter entrepreneur sangat berhati – hati, penuh perhitungan yang matang untuk menerima risiko seminimal mungkin. Bedanya, sifat cermat membantu proses perhitungannya berlangsung dengan cepat. Terakhir, sifat pekerja keras berkait dengan kemampuan bertahan seseorang dalam melakukan sesuatu. Karakter entrepreneur mengedepankan usaha yang maksimal, bukan setengah – setengah, apalagi gampang menyerah 🙂 .

Pemikiran lainnya adalah setiap orang memang harus mengembangkan karakter entrepreneur karena ia sendiri sedang memimpin sebuah perusahaan dengan namanya sendiri, dengan aset berupa tubuhnya sendiri. Dalam dunia bisnis, ada empat departemen utama yaitu sumber daya manusia (SDM), operasional, pemasaran, dan keuangan. Departemen SDM beorientasi pada peningkatan kualitas karyawan, sementara departemen Operasional akan berorientasi pada efisiensi kinerja. Departemen Pemasaran tentunya berfokus pada strategi penjualan, sedangkan Keuangan akan bertanggungjawab terhadap pengelolaan arus kas dan parameter finansial lainnya. Seorang pemimpin bisnis harus bisa mensinergikan keempat bagian tersebut. Lalu, apa kemiripannya dengan memimpin perusahaan bernama “diri sendiri”?

Orientasi “diri sendiri” juga tidak berbeda dengan orientasi masing – masing departemen tersebut. Pertama, seorang pribadi harus memfokuskan semua sumber daya yang dimiliki untuk meningkatkan kualitasnya, misal dengan meningkatkan keahlian menulis, menggambar, dan yang lainnya. Kedua, seorang pribadi juga harus mengutamakan efisiensi dalam setiap aktifitasnya, misal menggunakan waktu – waktu luang secara produktif dan meningkatkan kecepatan serta ketepatan dalam melakukan sesuatu. Ketiga, seorang pribadi harus mampu  menghargai kemampuan dirinya dengan baik lalu kemudian memasarkannya, menjual kepada khalayak publik. Keempat, seorang pribadi tentunya juga akan berhadapan dengan pengelolaan keuangan. Hal ini harus dilakukan dengan baik, untuk memastikan penggunaan sumber daya material yang optimal dan tepat guna. Misalnya, setiap orang pasti akan berurusan dengan bagaimana mengelola pendapatannya, apabila tidak dilakukan dengan baik maka bukan tidak mungkin mereka tidak akan memiliki tabungan hari tua. Pada akhirnya, setiap pribadi harus mensinergikan empat hal ini. Tidak ada yang memimpin, kecuali diri sendiri. Mirip dengan memimpin bisnis kan? Tugas seseorang dalam memimpin diri sendiri tidaklah beda dengan memimpin bisnis, dengan demikian persyaratannya pun menjadi sama, harus memiliki karakter entrepreneur.

Dua poin pemikiran inilah yang mendasari keyakinan saya bahwa entrepreneur tidak harus identik dengan membuka usaha. Sebagai kata sifat, entrepreneur melekat dalam setiap orang. Entrepreneur juga tidak perlu disampaikan sebagai sebuah cita – cita, melainkan wajib untuk dikembangkan sebagai bagian dari karakter pribadi. Kalaupun tetap harus dikaitkan dengan analogi bisnis, maka setiap manusia memang harus berjiwa entrepreneur karena ia sedang memimpin sebuah perusahaan, bernama PT. diri sendiri Tbk.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: