Dua Dunia, Tiga Tempat, Satu Cinta (bagian 3 – habis)

Selamat siang pemuda pemudi, bapak ibu, adik-adik netizen. Rasanya saya memiliki hutang terhadap blog ini apabila tidak melanjutkan tulisan yang telah dimulai. Menulis judulnya diawal cerita saya anggap sebagai janji yang harus dilunasi, dan hari ini semoga bisa terselesaikan, lunas tanpa harus didatangi debt collector 🙂

Sebelumnya, bagian dua dari judul ini menceritakan epik kehidupan saat kami sekeluarga menjadi terpisah, terjauhkan karena cita – cita dan kembali karena cinta. Memang benar masa – masa tersebut telah terbayar dengan senyum ibu dan bapak saat menyadari bahwa anak-anaknya sudah menjadi seorang insinyur kapal laut dan insinyur pesawat udara. Tetapi sekali lagi hidup harus berjalan, terutama bagi anak-anak muda yang masih sangat ranum. Selanjutnya bagian tiga akan lebih banyak menceritakan kehidupan dua jejaka kesayangan mereka yang mengais rejeki di ibu kota dan pinggiran ibu kota.

Tahun 2012 merupakan turning point bagi saya dan adik, saat secara resmi kami berdua menjadi pengangguran berpendidikan. Yes, sepertinya posisi ini sedang banyak terjadi di Indonesia. Memang saat itu kami mengambil masa istirahat, ber-euforia setelah berjibaku di bangku kuliah, melahap segala jenis makanan bali sebagai ganti masa-masa melahap buku materi kuliah. Menikmati waktu-waktu panjang sebagai ganti waktu-waktu yang tidak kalah panjang untuk memahami kicauan dosen, mengganti teman cengkrama dengan ibu-bapak serta membahas topik-topik yang jauh dari rumusan matematis.  Seingat saya, masa – masa itu selain dipenuhi kesenangan, juga menyelipkan kecemasan. Bagaimana tidak, perlu waktu 3 bulan setelah wisuda hingga saya bisa bekerja, sementara sudah tidak ada lagi beasiswa yang diberikan untuk masa tunggu kerja tersebut. alhasil tabunganpun terkuras untuk masa-masa pencarian kerja, mulai dari akomodasi pulang-pergi Jakarta untuk prosesnya, ataupun biaya “pacaran” yang sangat berkesan setelah berpisah sekian lama 🙂

 Menjadi seorang jobseeker tentu ada suka ada dukanya, salah satu sukanya adalah saya bisa berkunjung ke kota-kota lainnya seperti Jogja dan Jakarta, liburan ? tidak, ini hanya bagian dari ritual job seeker untuk mendatangi jobfair! Seru ? iya, pernah naik bis Denpasar – Jogja, kereta api Surabaya-Jakarta, ataupun menumpang teman yang kebetulan berkendara ke kampung halaman. Lalu bagaimana dengan tempat tinggal ? ah itulah gunanya teman, terlalu banyak tawaran untuk sekedar merebahkan badan di kosan teman-teman kampus, sesama penerima beasiswa, ataupun alumni selama ada di dua kota tersebut. Ah indahnya masa jobseeker :). Lalu bagaimana dengan dukanya ? tidak kalah banyak, tentu yang paling terasa adalah saat banyaknya lowongan pekerjaan tapi sedikit yang sesuai dengan bidang ilmu kita, ya disinilah idealis harus menjadi realistis sejenak. Apalagi menjadi seorang insinyur Perkapalan, bidang yang menurut saya masih langka di negeri yang konon dijuluki negeri maritim. Duka lainnya adalah saat pengumuman tahap-tahap melamar pekerjaan, ada saatnya nama kita tidak tercantum entah karena apa, ada pula saatnya kita tidak bisa mengikuti tes karena benturan waktu, maka berprioritas menjadi jawabannya.  Untuk adik, sepertinya masa – masa tersebut tidak terlalu susah, selain karena memang bidangnya sangat menarik, tetapi juga karena dirinya sudah menandatangani perjanjian kerja setelah pendidikan dengan salah satu maskapai nasional Indonesia.

Dua jejaka beralih pola hidup. Kalau dulu kami bisa dengan mudah pulang ke Bali untuk bertemu Ibu – Bapak, kali ini malah sebaliknya. Mengingat pekerjaan yang padat dan tidak adanya libur regular (tengah / akhir semester), maka semakin susah menemukan momen – momen itu, sangat susah. Tahun pertama kerja adalah tahun tanpa cuti! Tapi poin bagusnya adalah masa – masa libur ketemu Ibu Bapak menjadi masa – masa yang sangat menyenangkan. Seingat saya, setiap ada momen kumpul bersama, kami selalu menyempatkan diri untuk melakukan tirtayatra (perjalanan suci) untuk bersembahyang di beberapa pura, kembali ke kampung halaman ataupun hanya sebatas bercengkrama di malam hari ditemani tv dan camilan buatan ibu. Senang rasanya saat menikmati waktu – waktu itu, dan seperti manusia yang baru dewasa pada umumnya, kami berdua sangat senang sudah bisa berpenghasilan sendiri dan tidak menjadi beban finansial orang tua lagi. Jujur dikatakan bahwa ada rasa jumawa dengan apa yang telah dicapai saat ini. Selama masa bekerja, kami berdua selalu berusaha memberikan apa yang dulu Ibu dan Bapak inginkan. Hal – hal yang mungkin sangat simpel dan orang lain bisa memberikan hal yang lebih. Tetapi untuk kami hal itu sangat bernilai, mulai dari sepeda gayung (ibu ingin olahraga naik sepeda), kulkas (kulkas ibu rusak), meja makan (kami tidak punya meja makan), strider (bapak sedikit gemuk, ingin olahraga dirumah), tanah (kami masih tinggal menumpang), dan yang paling saya ingat adalah Pizza! Ya pizza, roti bakar itali itu yang diminta Bapak. Saat itu dengan lugu bapak bilang ” Bapak belum pernah makan pizza, beliin gus ya biar tahu aja rasanya”. Saat makan itu juga akhirnya Bapak cuma bilang “ya sudah, sudah tahu pizza, nanti kalau meninggal ditanya malaikat sudah tahu pizza apa belum supaya bisa Bapak jawab sudah tahu!”. Kami tertawa :).

Di medio akhir 2013 hingga pertengahan 2014 kami sudah sangat nyaman, semuanya berjalan indah, mulai berbalik lebih baik sebagai hasil dari kehidupan kami yang luar biasa sebelumnya. Adik kembali pada mimpinya untuk menjadi pilot, saya sendiri bertekad untuk mencicipi pendidikan di luar negeri, untuk menjadi seorang teknokrat. Saya ingat betul saat – saat kami meminta ijin orang tua, kami sangat yakin bahwa restu mereka adalah kunci keberhasilan kami. Sekali lagi kami menjadi egois dengan keinginan pribadi, menguji keiklasan Ibu dan Bapak untuk melepas putra – putranya mengejar mimpi. Jawaban merekapun sangat simpel, Ibu selalu menekankan jangan berpikiran biaya, kejar saja semua mimpinya, pasti ada jalan. Sementara Bapak selalu berpesan selalu usahakan yang terbaik. Pesan yang sangat simpel. Segera setelah restu didapat kami mulai berlari. Adik mulai mempersiapkan diri untuk ikut serangkaian tes seleksi menjadi seorang pilot. Anak ini memang sangat ulet, mulai dari belajar bahasa inggris, fisika dasar, matematika, hingga menjaga kesehatannya untuk bisa lolos seleksi. Sementara saya sendiri karena bekerja dibidang yang jauh dari bidang ilmu, maka langkah pertamanya ialah mengembalikan pekerjaan di jalurnya, mencari pekerjaan di bidang transportasi laut dan logistik. Meskipun kondisi pekerjaan saya di dunia pertambangan sudah menjanjikan pendapatan yang luar biasa, tetap tidak ada yang mampu mengalahkan mimpi saya untuk sekolah lagi. Alhasil berbagai lowongan saya kejar, bahkan walaupun saya bekerja di site pedalaman Kalimantan tidak menjadi alasan untuk tidak pulang pergi Jakarta – Kalimantan untuk melakukan interview pekerjaan. Kami berdua memang ndablek, selalu mengejar keinginannya dengan sungguh – sungguh, mungkin ini juga sifat warisan dari Bapak dan Ibu.

Hingga Juli 2014 kami sangat bahagia. Ibu dan Bapak sudah merayakan ulang tahun pernikahan yang ke 25, saat Ibu ulang tahun mereka makan malam bersama, dan saat liburan bulan itu kami makan malam bersama keluarga besar di tepi pantai Jimbaran. Untuk saya dan adik; saya sudah bekerja di tempat baru, sebuah perusahaan multinasional dan kembali pada urusan transportasi laut dan logistik, sementara adik sudah menyelesaikan keseluruhan tes seleksi dan tinggal menunggu masa pengumumannya. Iya benar, kami berdua sudah lebih dekat ke mimpi itu, sangat yakin semuanya akan baik – baik saja dan tercapai sesuai rencana. Ibu dan Bapak juga sangat menikmati masa – masa itu, mereka sering bepergian sekedar melepas penat ke pantai Nusa Dua, atau pulang ke kampung halaman. Sungguh menjadi hal yang kami syukuri.

Namun ternyata Bapak pergi lebih awal meninggalkan kami. Saya sangat ingat senyumnya saat mengucapkan terimakasih karena telah mengatur acara makan malam keluarga besar. Raut wajahnya memancarkan kebahagiaan, kebanggaan dengan apa yang telah dicapai oleh keluarga kami. Hal yang lebih jelas saya ingat juga adalah saat berpamitan untuk kembali ke Jakarta. Seperti biasa saya selalu cium tangan, tetapi hal yang tidak biasa adalah saya berkata “sehat terus ya Pak”, jawabannya hanya sebuah senyum. Senyuman itu seolah menjadi tanda bahwa beliau akan pergi untuk selamanya. Saat saya dan adik sudah di Jakarta, beliau berpesan pada keluarga untuk tidak memberitahu kami bahwa beliau sedang dirawat di rumah sakit. Seperti yang saya katakan diawal, beliau adalah orang yang sangat tertutup, bahkan dengan anak – anaknya beliau tidak ingin terlihat sedang sakit. Hingga waktu beliau meninggal, masih terasa kasih sayangnya luar biasa. Beliau pergi dengan tidak meyusahkan keluarga sama sekali, tanpa proses medis apa – apa, di pagi hari, saat semua keluarga berkumpul di hadapannya. Bahkan entah karena ada kekuatan yang membuat saya, adik, dan Ibu untuk tegar atau memang karena sudah kehabisan air mata, maka saat beliau pergi tidak ada air mata yang menetes. Sungguh kami sangat tidak diberatkan atas kepergiannya, bahkan upacara pemakamannya pun sangat ringan. Sangat banyak orang yang membantu, bukan hanya bantuan finansial, tetapi juga bantuan semangat dan doa untuk keluarga kami. Mungkin karena Bapak yang memang sangat mudah untuk bergaul, pemakaman beliau diikuti oleh sangat banyak sahabat – sahabatnya. Malah menurut saya, pemakaman Bapak bukan menjadi sesuatu yang bernuansa sedih, tetapi sesuatu yang menggembirakan dengan banyaknya pihak yang terlibat, dengan ketegaran yang dianugerahkan Tuhan pada keluarga besar kami.

Hari ini sudah dua bulan lebih Bapak pergi. Kami sekeluarga memang sedih, tetapi sangat optimis untuk apa yang ada di depan. Sebentar lagi adik akan masuk pendidikan menjadi pilot, sementara saya sedang berkonsentrasi untuk mengejar beasiswa Australia Award Scholarship sambil belajar ilmu praktis di dunia kerja. Ibu akan tetap di Bali, melanjutkan pengabdiannya menjadi sang pencerah, seorang guru yang bukan hanya mengajarkan ilmu buku tetapi juga ilmu kehidupan. Bapak, beliau sudah tenang disana, semua tugasnya sudah diselesaikan dengan luar biasa, menjadi kepala keluarga dan menjalankan kewajiban seorang manusia. Beliau selalu tersenyum disana, membimbing kami bertiga, menjadi bagian dari cerita Dua Dunia, Tiga Tempat, Satu Cinta 🙂

Jakarta, 11 Oktober 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: