Dua Dunia, Tiga Tempat, Satu Cinta (Bagian – 1)

Pagi ini saya memulai hari seperti pria perantau pada umumnya, seperti pekerja kebanyakan yang menghabiskan akhir pekan untuk beristirahat dari rutinitas atau mengerjakan hal-hal yang akan sedikit susah dilakukan pada hari kerja. Dimulai dari membersihkan kamar hingga menyetrika pakaian untuk satu minggu kedepan, hal yang memang sangat saya nikmati mulai dari masa kuliah sebagai persiapan kalau-kalau dapat istri yang sangat menuntut kesetaraan derajat antara laki-laki dan perempuan. Di sela-sela waktu tersebut, saya teringat kegiatan menulis blog yang dulu pernah saya lakukan, lupakan, lakukan, dan lupakan lagi. Apa kabar blog saya terdahulu ? Silahkan di lihat di http://aspirationchaser.wordpress.com/ .

Ngenes! Seperti saya sampaikan diawal, memang saya pernah menulis (2010), lalu tidak menulis, lalu menulis (2011), tidak menulis lagi, kembali menulis (2012), hingga sekarang tidak menulis lagi. Dengan fakta tak terbantahkan tersebut, hari ini saya putuskan untuk menulis kembali, di blog baru dengan harapan ada semangat baru untuk tetap menyimpan pelajaran hidup dalam memori virtual ini. Hari ini kita memulainya, Minggu 31 Agustus 2014. Big step start with an inch 🙂

Minggu 31 Agustus 2014, hari ini tepat 24 hari Bapak pergi meninggalkan kami, meninggalkan saya, adik, dan Ibu. Tidak ada yang pernah menyangka beliau akan pergi secepat ini, di usianya yang ke-48 tahun, di pernikahannya yang ke 25 tahun, dimasa-masa kami mulai menikmati jerih payah selama hidup sebagai keluarga kecil. Benar, satu tahun terakhir ini kami sekeluarga memang dianugerahi masa-masa luar biasa sebagai jawaban atas masa-masa terdahulu, yang buat kami tidak kalah luar biasa. Oleh karena itu, saya ingin menceritakan kembali apa yang telah terjadi selama masa itu, bukan sebagai ajang pamer, atau bahkan meminta simpati, tetapi sebagai memori yang tidak pernah terlupa, sebagai pembelajaran hidup yang harapannya bisa menjadi catatan setiap orang yang membacanya.

Bapak adalah anak tertua dari lima bersaudara yang besar di salah satu desa di ujung utara Pulau Dewata, salah satu desa baliaga (istilah untuk desa tua berpenduduk bali asli). Beliau adalah anak seorang petani, pedagang, atau apapun profesi yang biasa dilakukan masyarakat di pedesaan hanya untuk menyambung hidup. Perjalanan hidupnya dari kecil tidaklah mudah, bukan hanya dirinya tetapi juga bagi seluruh keluarga kecilnya. Tinggal di desa dengan akses yang sangat terbatas, mengisi masa kanak-kanaknya dengan permainan seadanya, pembelajaran secukupnya, dan pekerjaan kasar yang jumlahnya lebih dari cukup. Cerita detail mengenai masa kecilnya tidak pernah bisa kami dapat dengan penuh, selain karena Bapak merupakan orang yang tertutup, tetapi juga karena beliau melihat masa kecilnya sebagai pembelajaran yang tidak perlu diwariskan kepada generasi berikutnya.

Keluarga - 10 Maret 2012
Keluarga – 10 Maret 2012

Bapak muda merantau ke Denpasar di usia yang sangat muda, mungkin inilah salah satu sifat yang diwariskan kepada anak-anaknya, gemar merantau. Sekali lagi tidak banyak hal yang bisa kami ceritakan mengenai masa muda beliau, tetapi kami yakin itu menjadi pengalaman yang luar biasa baginya, luar biasa berat, luar biasa menyenangkan, luar biasa mendewasakan. Beberapa cerita pendek pernah kami dengar, mengenai usaha bapak untuk bekerja di salah satu perusahaan, berbisnis, berwirausaha, dan semua usaha untuk mengangkat derajat kehidupan lebih tinggi. Tidak pernah berhenti berusaha, selalu optimis bahkan masih bisa berkelakar dimasa-masa sulit. Satu lagi sifat yang beliau wariskan kepada generasi penerusnya. Oya, salah satu hal indah yang pasti beliau ingat dengan keputusannya merantau pastilah saat bertemu belahan jiwanya, seorang anak tertua dari keluarga terdidik dengan profesi sebagai pengajar. Hari yang Bapak ingat dengan jelas adalah 14 Januari 1989, hari dimana mereka menikah, berjanji untuk mengarungi hidup, bercita-cita untuk menaklukkan hidup, dan bersyukur atas indahnya hidup.

Masa-masa keluarga ini dimulai dengan kelahiran seorang anak laki-laki, saya, dengan kondisi prematur dan seukuran botol air mineral 1.5 liter 🙂 .Saya tidak ingat dengan jelas berapa kali kami berpindah tempat tinggal, bukan karena punya banyak tempat tetapi karena memang kami tidak punya tempat. Seingat saya, ada 3 tempat yang kami tinggali, mulai dari kos-kosan kecil, rumah dinas Guru SD (dua kali berpindah), dan akhirnya rumah tinggal sendiri. Menurut cerita orang, saya sangat “menghibur” mereka, dengan badan yang bongsor, dengan kebiasaan ngedot susu angkat kaki, penyakit PeLor (nempel kasur molor), hingga makan makanan hasil kunyahan orang lain. Berhubung saya masih sangat kecil, tidak banyak yang dapat saya ceritakan karena memang tidak banyak hal yang saya ingat kecuali kelahiran adik 3 tahun setelah saya. Lengkaplah sudah, ada 3 pria disekeliling  satu wanita, Bapak, saya, adik, dan Ibu.

Ibu adalah orang yang tidak kalah istimewa, bisa dibilang beliaulah lentera kami bertiga. Disela-sela kesibukannya mengajar di sekolah dasar, beliau membantu keuangan keluarga dengan mengelola kantin di sekolah. Rutinitas pagi kami sekeluarga adalah menyiapkan bahan dagangan, dimulai dari ibu yang memasak nasi goreng, mi goreng, plecing kangkung, lumpia dan makanan lainnya. Selanjutnya, kami pria-pria yang tidak berkeahlian memasak memliki tugas untuk membungkus semuanya untuk dijual dalam plastik-plastik kecil terpisah, dan mempersiapkan kebersihan kantin. Kami sangat menikmati masa-masa tersebut karena mungkin tidak banyak keluarga yang pernah mengalaminya. Di lain waktu, Ibu membuka bimbingan belajar bagi siswa-siswa yang ingin mengisi waktu mereka selain belajar di sekolah. Hal inilah yang membuat saya menjadi terbiasa belajar dirumah, menyukai dan sangat menikmati belajar. Tidak jarang Ibu malah menyuruh saya yang mengajar mereka, tentunya mereka yang kelasnya dibawah saya saat itu. Dengan begitu, keuangan keluarga menjadi sangat terbantu, terbantu oleh ibu dan kami sekeluarga. Cerita keluarga kecil kami terus berlanjut, naik turunnya juga selalu terjadi, hingga saya dan adik dewasa. Seluruhnya memang menyenangkan, dan faktanya kita baru tersadar saat Bapak pergi.

Kehidupan kami masih terus berlanjut, masih banyak cerita yang selalu kami ingat, namun berhubung malam yang semakin larut dan mata yang meredup, perjalanan cerita kami berikutnya akan saya tuliskan dalam bagian – 2. Sampai jumpa 🙂

Jakarta 31 Agustus 2014 – 20:57 Wib 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: