Dua Delapan!

Saya selalu bersyukur di setiap perayaan ulang tahun, bukan hanya karena semua anugerah Tuhan dan pencapaian di periode itu, tetapi juga karena selalu ada yang baru dalam setiap momen itu. Mungkin efek sebagai anak perantauan, hal yang paling jelas terlihat adalah perbedaan lokasi perayaannya. Semenjak 2007 saya hampir tidak pernah merayakan ulang tahun di tempat kelahiran sendiri, di Bali. Kebanyakan perayaannya adalah di Surabaya, lebih jauh lagi Jakarta, Kalimantan, Amerika Serikat, hingga yang paling baru ini di Australia. Tetapi, hal yang paling saya syukuri adalah adanya wanita hebat ini, Isna, di ulang tahun ke-Dua Delapan. Ya, kami memang sudah berhubungan sejak 2011, tetapi baru kali ini kami melewati ulang tahun saya, bersama-sama.

Sedikit gambaran tentang Isna, dia adalah sumber Pygmalion effect saya. Dialah sang Galatea dalam cerita Yunani kuno, sebuah patung wanita yang hidup karena stigma dan ekspektasi Pygmalion bahwa patung tersebut benar – benar hidup. Dalam konsep psikologi, legenda ini diartikan sebagai reaksi manusia terhadap stigma dan ekspektasi yang diberikan. Apapun bentuknya,  semakin tinggi stigma dan ekspektasinya, semakin keras pula usaha dan keyakinan seseorang untuk mencapai sesuatu. Ini persis seperti apa yang Isna lakukan dalam enam tahun hubungan kami ini. Dia selalu memberikan target besar dalam hidup saya, ber-ekspektasi tinggi , dan memberikan stigma bahwa saya mampu melakukannya. Sebagai hasilnya, banyak hal yang sudah mampu kami lalui dengan baik, paling tidak dalam perspektif kami berdua. Tentunya, masih banyak hal lain juga yang harus kami selesaikan dengan bantuan Pygmalion effect ini. Ilustrasi ini juga menggambarkan pepatah di belakang lelaki hebat selalu ada dua wanita hebat yaitu Ibu dan istri. Khusus dalam periode ini, I am proud to say that Isna is the architect of my life, I am very blessed! 

Kembali ke perayaan dua delapan, saya dan Isna tidak berencana merayakannya dengan spesial di luar rumah. Selain karena cuaca musim dingin yang mencapai 1 derajat beberapa hari terakhir, kami juga ingin istirahat saja dirumah. Kebetulan saya sendiri baru saja menyelesaikan tugas terakhir semester ini, jadi tinggal dirumah menjadi opsi yang menjanjikan. Dirumah kami memutuskan untuk masak bersama, Isna masak nasi kuning, saya sendiri berkutat dengan iga bakar dan membantu sebisanya. Singkat cerita, kami berakhir dengan menu makan malam istimewa sebagai peringatan ulang tahun saya. Tentunya, tidak lupa kue Tiramisu (yang sebenarnya kesukaan Isna) dan tiup lilin sederhana. Bagi saya, sudah sangat cukup untuk merayakan Dua Delapan.

Sampai disini, saya kira semua sudah selesai. Ternyata dua sahabat datang kerumah lengkap dengan kue ulang tahun. Jinia dan Ryo, entah ide siapa, entah merencanakannya dengan siapa, yang jelas mereka datang dengan sangat tiba – tiba. Kami memang sama – sama penerima beasiswa pemerintah Australia. Jinia adalah peneliti muda di bidang stem cell (entahlah apa itu), dan Ryo adalah engineer yang matang pengalaman dengan kemampuan interpersonal yang mumpuni. Kami makan bersama, bercerita banyak hal, bahkan hingga mereka menginap dirumah. What a party! Thanks guys!

Berikutnya, saya juga ingin berbagi tentang hadiah dan hal – hal yang saya lakukan pribadi untuk menandai Dua Delapan ini. Isna memberikan hadiah sebuah Nike Dri-Fit running short, bahasa kerennya sebuah celana pendek untuk jogging 🙂 . Saya memang sangat menginginkan benda ini, semacam perlengkapan wajib untuk seorang runner. Selain karena saya memang hobi lari, tetapi sepertinya juga karena Isna ingin saya kurusan lagi. Ternyata, ada pesan terselubung! Dia juga memberikan sebuah tas kerja, mungkin karena prihatin kemana-mana saya selalu membawa ransel, bukan hanya ke kampus bahkan ke acara – acara formal dengan setelan jas. Terakhir, dia memberikan saya sejumlah uang untuk membeli saham perusahaan PT. X. Bagi saya, ini yang paling berkesan. Seorang istri yang memberikan hadiah suaminya sebuah perusahaan. Selama perusahaan itu masih berdiri, selama itu juga hadiah Isna masih disana. Selama perusahaan itu menghasilkan dividen dan mengalami kenaikan harga, selama itu juga hadiah Isna akan berkembang. Brilliant! Thanks love!

Di sisi hal – hal pribadi, saya akan menandai Dua Delapan ini dengan dua hal. Yang pertama, mulai membayar Dharma Dana setiap tahun, mirip seperti zakat fitrah di kalangan Muslim. Konsepnya hampir sama dengan dana punia pada umumnya, namun kali ini di kelola oleh Badan Dharma Dana Nasional dan disalurkan ke berbagai program seperti beasiswa, kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi umat Hindu. Kebetulan, saya sendiri adalah penerima beasiswa penuh dari BDDN di masa S1 dulu. Jadi tidak ada salahnya seorang penerima bantuan menjadi pemberi bantuan saat ini. Bagi yang tertarik, silahkan kunjungi websitenya di http://www.bddn.org.

Yang kedua, saya akan mencoba untuk mengaplikasikan konsep deep work. Sebuah konsep untuk melakukan sesuatu dengan sangat fokus tanpa ter-distraksi hal lainnya. Salah satu argumen dalam konsep ini adalah hanya dengan fokuslah anda bisa mencapai produktifitas tertinggi. Disisi lain, era internet menjadi penyumbang distraksi terbesar, penghalang fokus terbesar, salah satunya ialah sosial media. Ia menjadi penyumbang distraksi terbesar untuk mencapai produktifitas. Bahkan, sebuah laporan menunjukkan tren penggunaannya terus meningkat hingga lebih dari dua jam perhari. Oleh karena itu, saya akan mulai menutup akun sosial media yang saya miliki sebagai usaha untuk meningkatkan fokus dan produktifitas. Saya yakin saya tidak akan hilang dari peradaban internet ini. Saya masih bisa dihubungi via email di apwicaksana@gmail.com atau agus.putrawicaksana@gmail.com. Saya juga masih bisa membagi banyak hal melalui tulisan di website pribadi ini, http://www.apwicaksana.com. Lebih jauh lagi, saya masih masih berkomunikasi dengan teman – teman secara langsung ataupun via telepon. Semoga saja berhasil!

Sebagai penutup, saya tampilkan presentasi Dr. Cal Newport, salah satu idola saya, dalam TED Talk yang berbicara tentang keluar dari sosial media. Sedikit intermezzo, dia adalah seorang professor Ilmu Komputer, seseorang yang sangat dekat dengan dunia digital dan era internet, namun malah menyarankan untuk keluar dari sosial media. So, enjoy the show and see you on top!

Melbourne 5 Juli 2017, dua hari pasca perayaan Dua Delapan – apwicaksana

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: